Pada tahun-tahun terakhir rezim Orde Lama, produk kosmetik terhitung barang mewah. Hanya segelintir orang yang mampu membelinya. Belum ada produk lokal. Yang beredar di pasar sangatlah terbatas, seratus persen barang impor. Situasi itu berubah drastis di era Orde Baru seiring geliat perekonomian yang diakibatkan oleh program pembangunan. Kelas menengah, yang hingga waktu itu cuma lapisan tipis dengan kemampuan finansial yang terbatas pula, tiba-tiba tampil dinamis dengan akses pada uang tunai yang sebelumnya sulit terbayangkan. Surat kabar dan majalah baru diluncurkan. Termasuk media cetak yang khusus diarahkan kepada pembaca wanita. Otomatis, berbagai artikel tentang dunia mode, fashion, kecnatikan, kesehatan dan sejenisnya mulai membanjir.
Berkat ekonomi pasar yang kapitalis ini, banyak benda konsumsi impor ikut membludak, seiring pertumbuhan kota-kota besar yang satu demi satu mulai dihiasi aneka toserba dan super market. Termasuk, aneka ragam barang kosmetik dan produk fashion asing. Sejalan dengan kemajuan ekonomi yang dialami Indonesia, muncullah pula konsumen wanita modern berikut suatu pasar khusus untuk perawatan kulit dan produk-produk kecantikan. Pasar itulah yang dikemudian hari menjadi lahan usaha Retno dan beberapa pengusaha kecantikan Indonesia lainnya.
Retno lulus sebagai spesialis Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin tepat pada waktu perekonomian Indonesia mulai bergerak tumbuh, yaitu tahun 1968, satu tahun setelah melahirkan anak keduanya -Krishna Nindita, pada tanggal 21 Juli 1967. Sudah lebih dari empat tahun Retno memberikan kursus kepada para beautician Viva Institute. Selain itu, sebagai dokter muda yang aktif bekerja setiap pagi di poliklinik Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin dan memberikan kuliah kepada mahasiswa, Retno memiliki keahlian yang betul-betul langka. Kecantikan dia tahu, kedokteran kulit pun dia paham. Dia juga punya pengalaman yang cukup panjang di kedua bidang itu. Tak ada siapapun di Indonesia, mungkin selain Dr. Tio Tiong Ho, yang memiliki kombinasi pengetahuan dan ketrampilan yang menyamainya di bidang kecantikan.
Retno tidak segera menyadari peluang-peluang yang dibuka oleh keunggulannya. Dia tak berniat berdikari. Ketika Ibu Bo Tan tjoa mengajaknya membuka praktik di Salon Viva, tempat dia selama ini mengajar, dia menerima tawaran tersebut sekali seminggu sebagai part time job. Kala itu, gerakan keluarga berencana (KB) yang diprogramkan Orde Baru lebih memikat perhatiannya. Pada era pemerintahan Presiden Soekarno, belum ada program KB. Indonesia, yang hendak membangun, justru membutuhkan rakyat dalam jumlah banyak. Demi "kebesaran bangsa", rakyat harus beranak pinak. Pada zaman Orde baru mulai 1968, program KB dicanangkan. Angka kelahiran diatur dan dibatasi. Jika tidak, ledakan penduduk bakal terjadi dan melanggengkan kemiskinan. Retno sepakat, maka ketika Kepala Bagian Ilmu Penyakit dan Kelamin, Prof. Dr. Djoewari meminta bantuan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), tanpa pikir panjang Retno menerima dengan senang hati. Waktu itu, belum ada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kegiatan KB berpayung di bawah LSM asing bernama Planned Parenthood Association yang beprusat di London, Inggris. "Saya seminggu dua kali ke desa-desa di Kecamatan Lemah Abang, Cikarang, tambun untuk memperkenalkan intra uterin device (IUD) kepada masyarakat di puskesmas-puskesmas setempat. Saya diantar jemput mobil Land-Rover milik PKBI," lanjut Retno.
Dari daerah penyuluhan yang dijelajahinya itulah, dia sempat mengembangkan hobinya yang lain, beternak ayam. Jumlahnya mencapai 75 ekor yang dipelihara di tiga kandang. Dari kampung-kampung itu, rutin dibawanya sekam halus- kulit padi, sebagai pakan ayamnya. Tak jarang, penduduk sekitar memberinya ubi, singkong, nangka atau pisang. Dalam kapasitasnya sebagai penyuluh KB itulah Retno juga mendapat kesempatan training ke luar negeri atau seperti yang dikatakan suaminya, kesempatan untuk melihat dunia. Pertama ke Filipina, disusul ke Korea dan pada 1970 ke Malaysia. Bersama lima rekan -dokter, bidan dan pejabat BKKBN- training berlangsung selama satu bulan. Pada lawatan ke Korea, ketakutan sempat mendera. Ceritanya, rombongan diinapkan di sebuah hotel berkelas di Seoul. "Tetapi", cerita Retno, " tahu-tahu, pada saat kami membuka pintu kamar untuk minta seprai diganti, muncullah laki-laki mabuk yang mau mencoba masuk. Kami ketakutan dan untunglah bertemu dengan teman-teman kami yang menghalau si pemabuk itu. Disitulah saya mengerti bahwa harus berhati-hati di tempat mana pun yang belum kita kenal.
Seusai training di Seoul, Retno tidak langsung pulang. Di seberang Selat Kroea terlatk gugusan pulai wilayah Jepang, dengan Tokyo nun di utara. Suatu kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Retno telah dibekali surat pengantar buat Bapak Is Lango, adik seorang rekan Tanggono yang kebetulan ditugaskan di kedutaan Indonesia di Tokyo. Istrinya, Bendari Lango sudah menyatakan kesanggupannya mengantar Retno kemana pun dia mau. "Jalinan hangat persahabatan dan tulus seperti itu cukup menbgemuka pada waktu itu, " kata Retni. "Is diberi tahu jam kedatangan saya, dia dan istrinya menjemput saya di lampangan udara. Karena belum kenal, maka saya ditaruh di hotel. Tetapi saya masih dihantui ketakutan akibat pengalaman di Korea, dan semalaman tidak bisa tidur. Untunglah keesokan harinya saya dijemput lagi oleh Is. Kami cocok dan dia mengajak saya pindah tidur di rumahnya sampai akhir kunjungan di Tokyo.
Perjalanan Retno ke luar negeri ini mengimplisitkan sikap terbuka dan saling percaya antara Retno dan Tranggono. Pada waktu itu belum begitu lazim wanita bepergian sendiri, tanpa disertai suami. Sebagai suami, Tranggono tak menutup akses bagi istrinya untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Yang dilakukan Retno di Tokyo memang bukan sekedar jalan-jalan. Tak hanya untuk shopping, dia ingin mendapatkan manfaat lain yang menunjang perkembangan keahliannya sebagai dokter kulit dan kecantikan. Dalam rangka itulah, ditemani IS Lango, dia berkunjung ke Jurusan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo. Di tempat itulah dia mendapatkan informasi tentang adanya alat medis canggih yang mempu menghilangkan kutil. Alat itu pula yang dbelinya dan dibawa pulang ke Indonesia. "Saya dokter pertama di Indonesia yang mempergunakan alat itu dan hingga kini terus saya pakai, " kenang dia dengan bangga. Tak hanya alat medis itu, Retno juga memberli alat fotografi - kamera dan film bewarna- yang di Indonesia pada era itu, belum populer dan masih langka.
Showing posts with label Pembaharu. Show all posts
Showing posts with label Pembaharu. Show all posts
Sunday, June 12, 2011
Sunday, June 5, 2011
Rintisan Kemasan Kosmetik
Seputar tahun 1971- 1972, selaras dengan membludaknya pasien di Jalan Sumatra, sistem pembuatan obat pesanan Retno sudah berubah. Racikan obat yang dibuat satu-satu berdasarkan resep individual, kini tinggal kenangan. Obat telah "diproduksi", meski dalam ukuran yang masih kecil-kecilan. Tranggono ingat betul, dialah yang mengawasi produskinya, di apotek yang bersebelahan dengan tempat praktiknya. "Kami masih pinjam tempat di apotek," kisahnya. "Tukang racik, alias ahli obat pun kami pinjam dari rekan saya yang apoteker itu. Untuk kemasan, mudah: kalau obat cair kita membeli botol kecil yang kosong; kalau salep, yang kita beli pot kosong; lalu kita serahkan kepada apotek untuk dibersihkan supaya higienis, karena itu salah satu tuntutan kami. Lalu diisi dan ditutup. Setelah itu giliran saya. Pot-pot dan botol-botol saya angkut di jip Rusia saya dan saya pergi ke tempat praktik Retno di jalan Sumatra. Kami belum membuat badan hukum atau CV. Masih sebagai dokter, Retno dokter kosmetodermatolog, saya psikiater. Saat itu kami belum punya banyak bayangan bahwa akan menjadi 'industriawan'." ungkap Dr. Suharto Tranggono.
Pada waktu itu produk kosmetik Retno masih merupakan industri rumah tangga, yang penjualannya sepenuhnya bergantung pada kepiawaian Retno. Berpenampilan profesional, Retno yang mulai dijuluki sebagai Dokter Jerawat, memang mempunyai kemampuan ajaib untuk meyakinkan "pasien" bahwa masalah kulitnya dapat diatasi bila ditangani dengan kesungguhan oleh sang dokter dan dilaksanakan oleh pasien. Selain kebersihan, katanya faktor rasial dan iklim memegang peran yang tidak kecil, dan obat yang dia tawarkan dibuat berdasarkan pertimbangan itu. Pasien puas, namun perihal kecantikan, bukanlah tidak cukup untuk mengobati jerawat, tetapi harus juga merawat sehari-hari secara teratur dan benar? Untuk itu, para langganan salon Dr. Retno tidak lagi membutuhkan penanganan medis murni. Cukup nasihat, dilengkapi dengan anjuran penggunaan produk kosmetik yang memadai - yaitu yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak mengandung bahan perusak kulit. Retno cepat memahami adanya "lahan profesional" baru. Sedikit demi sedikit, bukan lagi sekedar "obat" yang dipesan pada apoteker untuk pasiennya, tetapi "produk-produk" kosmetika yang terjamin layak secara medis. Pot-pot dan salep lain dijual di bagian salon untuk konsumen umum, tanpa perlua resep dokter. Dengan kata lain, dari produk farmasi, sedikit demi sedikit bralih ke produk kosmetik.
Retno tengah mempertemukan dunia kedokteran dan dunia kosmetik, kali ini tidak lagi di laboratorium dan ruang kuliah UI, tetapi untuk konsumsi masyarakat. Tujuannya, menjadikan wanita-wanita Indonesia lebih cantik dan sekaligus lebih sehat speanjang usia. Inilah idaman Retno untuk membuat kosmetik.
Tentu saja, Indonesia bukanlah tidak mempunyai tradisi perawatan kecantikan. Sudah ratusan tahun wanita Jawa minum jamu guna memperlancar metabolisme tubuh dan dengan demikian menjaga kesegaran dan kecantikan. Sebagai perawatan luar, mereka biasa mengoles aneka lulur dan boreh yang mengharumkan kulit dan mempererat pori-pori kulit. Tetapi mandi bunga juga diteapkan. Wajah diperputih melalui penggunaan pupur beras. Hasilnya tampak gemilang, Tetapi, disitulah justru muncul masalah. Hampir semua produk bedak yang dipergunakan, kalau bukan produk impor, dibuat secara lokal berdasarkan formula-formula taun 1930-an - ketika kesehatan kulit belum diperhatikan. Dengan perkecualian Viva, semua merek kosmetik yang beredar pada umumnya mengandung zat-zat kimia yang berpotensi merusak kulit, dan bahkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Retno menyadari masalah itu. Tak sedikit pasien yang berkunjung ke tempat praktiknya mengeluhkan soal itu. Kosmetik untuk memutihkan dan memperhalus kulit wajah malah menimbulkan flek-flek cokelat. Bahkan, ada yang sampai bengkak dan bernanah. Ketika berhadapan dengan pelanggan seperti itu, Retno kembali kepada prinsip dasarnya: kebersihan. Dia mengimbau wanita-wanita itu untuk berhenti menggunakan ksometik yang mencurigakan dan mencuci wajah secara benar. Retno terpaksa, sekali lagi, menggantikan "produk: yang "tak ada" itu dengan racikan medis hasil apoteknya sendiri. Dengan demikian, Retno menghasilkan ragam kosmetik yang sama sekali baru.
Pada waktu itu produk kosmetik Retno masih merupakan industri rumah tangga, yang penjualannya sepenuhnya bergantung pada kepiawaian Retno. Berpenampilan profesional, Retno yang mulai dijuluki sebagai Dokter Jerawat, memang mempunyai kemampuan ajaib untuk meyakinkan "pasien" bahwa masalah kulitnya dapat diatasi bila ditangani dengan kesungguhan oleh sang dokter dan dilaksanakan oleh pasien. Selain kebersihan, katanya faktor rasial dan iklim memegang peran yang tidak kecil, dan obat yang dia tawarkan dibuat berdasarkan pertimbangan itu. Pasien puas, namun perihal kecantikan, bukanlah tidak cukup untuk mengobati jerawat, tetapi harus juga merawat sehari-hari secara teratur dan benar? Untuk itu, para langganan salon Dr. Retno tidak lagi membutuhkan penanganan medis murni. Cukup nasihat, dilengkapi dengan anjuran penggunaan produk kosmetik yang memadai - yaitu yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak mengandung bahan perusak kulit. Retno cepat memahami adanya "lahan profesional" baru. Sedikit demi sedikit, bukan lagi sekedar "obat" yang dipesan pada apoteker untuk pasiennya, tetapi "produk-produk" kosmetika yang terjamin layak secara medis. Pot-pot dan salep lain dijual di bagian salon untuk konsumen umum, tanpa perlua resep dokter. Dengan kata lain, dari produk farmasi, sedikit demi sedikit bralih ke produk kosmetik.
Retno tengah mempertemukan dunia kedokteran dan dunia kosmetik, kali ini tidak lagi di laboratorium dan ruang kuliah UI, tetapi untuk konsumsi masyarakat. Tujuannya, menjadikan wanita-wanita Indonesia lebih cantik dan sekaligus lebih sehat speanjang usia. Inilah idaman Retno untuk membuat kosmetik.
Tentu saja, Indonesia bukanlah tidak mempunyai tradisi perawatan kecantikan. Sudah ratusan tahun wanita Jawa minum jamu guna memperlancar metabolisme tubuh dan dengan demikian menjaga kesegaran dan kecantikan. Sebagai perawatan luar, mereka biasa mengoles aneka lulur dan boreh yang mengharumkan kulit dan mempererat pori-pori kulit. Tetapi mandi bunga juga diteapkan. Wajah diperputih melalui penggunaan pupur beras. Hasilnya tampak gemilang, Tetapi, disitulah justru muncul masalah. Hampir semua produk bedak yang dipergunakan, kalau bukan produk impor, dibuat secara lokal berdasarkan formula-formula taun 1930-an - ketika kesehatan kulit belum diperhatikan. Dengan perkecualian Viva, semua merek kosmetik yang beredar pada umumnya mengandung zat-zat kimia yang berpotensi merusak kulit, dan bahkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Retno menyadari masalah itu. Tak sedikit pasien yang berkunjung ke tempat praktiknya mengeluhkan soal itu. Kosmetik untuk memutihkan dan memperhalus kulit wajah malah menimbulkan flek-flek cokelat. Bahkan, ada yang sampai bengkak dan bernanah. Ketika berhadapan dengan pelanggan seperti itu, Retno kembali kepada prinsip dasarnya: kebersihan. Dia mengimbau wanita-wanita itu untuk berhenti menggunakan ksometik yang mencurigakan dan mencuci wajah secara benar. Retno terpaksa, sekali lagi, menggantikan "produk: yang "tak ada" itu dengan racikan medis hasil apoteknya sendiri. Dengan demikian, Retno menghasilkan ragam kosmetik yang sama sekali baru.
Thursday, May 5, 2011
Tentang Dokter Retno
" Mbak Retno adalah sang perintis. Beliau termasuk dalam segelintir dokter yang memulai membuka babak baru berupa pelayanan kesehatan kulit dan dikombinasikan dengan elemen kecantikan. Kesehatan kulit untuk menunjang unsur estetika wajah menjadi urusan penting bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan. Secara langsung atau tidak langsung, Mbak Retno ikut berjasa memasyaratkan kredo "sehat itu cantik", perpektif yang bisa dipertanggungjawabkan dari sudut medis, " HM. Taufiq Kiemas (Ketua MPR RI 2009-2014)
Sunday, May 1, 2011
Dari Jalan Cikini Ke New York
Salah satu hal yang menarik dalam riwayat Retno ialah "kerakusannya" pada buku-buku imliah. Sikap inilah yang mengantarnya pada hubungan erat dengans alahs atu tokoh terkemuka dari dunia kosmetik Amerika Serikat, yaitu Profesor Irwin I. lubowe, M.D.
Pada tahun 1970, Retno baru saja mendirikan Sub Bagian Kosmetik dan Bedah Kulit (Kosmeto-Dermatologi), dan dia membutuhkan perangkat ilmu yang selengkap-lengkapnya untuk mem-back up idenya dalam merintis dan mengembangkan sub bagian itu. Pada masa itu, awal orde baru, toko buku masih langka. Tempat yang paling baik untuk mencari buku justru kios-kios buku bekas. Tak jarang dia terpaksa mengimpornya dari luar negeri.
Tempat-tempat seperti itu kerap didatangi Retno, entah secara iseng atau khusus untuk mencari-cari sumber bacaan yang dapat dipakai sebagai referensi. “Karena saya harus benar-benar yakin dengan ilmu yang saya kembangkan,” tanda Retno. Banyak buku dibelinya dengan cara ini, yang sebagian besar kini masih tersimpan rapi di perpustakaan Ristra.
Sebagaimana biasa, tanpa rencana, pada sutau hari singgalah dia di kios buku favoritnya di Pasar Cikini, tak jauh dari tempat praktiknya di Menteng. Matanya tiba-tiba terpikat pada dua judul buku saku, yang terselip di antara tumpukan buku-buku lainnya. Buku karangan Prof. Lubowe dan karangan J. Bedford Shelmire, J., M.D. Kedua penulis merupakan dokter kulit tersohor dari Amerika Serikat yang menulis tentang seluk beluk kosmetik dari kulit.
“Setelah saya lama mencari apakah ilmu yang saya kembangkan itu benar atau tidak, pada akhirnya saya menemukan juga buku yang ditulis dua dokter kulit tersebut,” kisah Retno mengenang. Kini Retno mengetahui, dirinya bukanlah lonely fighter. Ada dokter-dokter dan bahkan cabang kedokteran, yang meneliti dan mempelajari hubungan antara kosmetik dan kulit di Amerika, seperti yang tengah dilakukannya saat itu. Membaca dan mempelajari buku tidaklah cukup. Akan lebih elok lagi, jika bisa bertemu dan berbincang langsung dengan penulisnya. Berdiskusi, guna menimba ilmu dari tokoh yang terkenal itu.
“Saya harus bertemu dan berdiskusi, paling tidak dengan salah satu dari mereka untuk meyakinkan ilmu yang sedang saya perdalam demi masyarakat Indonesia. Siapa tahu mereka bisa menyumbang ide untuk mengembangkan dunia kosmetik Indonesia,” tekad Retno waktu itu.
Kadang-kadang dia “bermimpi” mereka akan mengunjungi Indonesia, tetapi tak pernah terlaksana. Mendekati akhir decade 70-an, hubungan internasional yang dijalin ke segala arah mulai memetik buah. Dia didaulat menjadi salah satu panitia Kongres Regional Dermatologi yang diselenggarakan di Bali pada 1978.
“Pada kongres itu perwakilan anggota dari semua Negara Asia direncanakan datang. Saya pikir sudah waktunya saya mencoba mendatangkan Prof. Lubowe atau Dr. Shelmire. Kalau mereka datang, yang akan dibicarakan bukan hanya kosmetik, tetapi hubungan antara kosmetik dan kedokteran. Ya, ini yang dinantikan selama ini. Akan ada dokter yang berbicara khusus tentang kosmetik, “ gagas Retno waktu itu.
Bukanlah jalan yang mudah untuk mendatangkan ahli-ahli itu. Alamat mereka pun tidak diketahui. Satu-satunya informasi yang dimiliki, hanya nama penerbit yang tertera pada sampul buku kedua ahli itu. Dengan modal itu Retno menemukan alamat penerbit dan penerbit itulah yang kemudian meneruskan surat-surat Retno kepada Prof. Lubowe dan Dr. Shelmire.
Setelah dua minggu, balasan pertama pun datang dari Dr. Shelmire. Dia tak bisa hadir dan meminta maaf karena sudah ada janji lain. Apakah Prof. Lubowe akan juga demikian sehingga kongres bakal berlangsung tanpa “bintang”? Ini meresahkan Retno. Ternyata setelah sabar menunggu-nunggu selama satu minggu, akhirnya datang surat balasan kedua dari Prof. Lubowe. Dia menyatakan kesediaan untuk hadir dan membawakan makalah!.
“Waktu itu, saya merasa lega mendapat back up dari guru besar New York Medical College itu. Saya yakin kongres yang saya organisasikan itu akan sukses,” lanjut Retno.
Satu tahun kemudian tibalah saat Regional Congress of Dermatology (1978) di Bali. Kehadiran Prof Lubowe di kongres sangatlah penting karena dia adalah pembicara internasional yang pertama kali mengenalkan kaitan antara ilmu kosmetik dan kedokteran di Indonesia. Di tengah situasi politik ketika kontak dengan Amerika rumit dan langka terjadi, lanjut Retno, “Saya bisa mengundangnya pada kongres itu dan lebih luar biasa lagi karena kami sesungguhnya sepaham.”
Sunday, April 17, 2011
Layaknya Bunga Anggrek
Dr. Retno adalah orang Indonesia pertama yang mengusung dunia kedokteran ke dalam dunia kecantikan. Di tahun 1970, dr. Retno pun mendirikan sub-bagian Kosmetika dan Bedah Kulit FKUI, yang kini disebut Kosmeto Dermatologi. Ia mengubah paradigma, dari oenekanan kulit dan kelamin menjadi kulit dan kosmetik.Sekaligus ia membenahi kurikulum pendidikan para beautician dan menatar mereka juga melalui Konsorsium Pendidikan tata Kencatikan Kulit dan Rambut, hasil kerja sama Persatuan Dokter Spesialis Kulit Indonesia (Perdoski) dan Departemen Pendidikan Luar Sekolah dan Olah Raga.
Selanjutnya, ia adalah ilmuwan yang banyak menemukan fakta baru seputar kulit. Di antaranya faktor-faktor seperti pengaruh angin, air, suhu, kelembaban udara, intensitas sinar matahari serta tipe kulit berdasarkan ras secara signifikan akan mempengaruhi kebutuhan kulit akan kosmetikanya. Hal ini yang menjadi dasar bagi kosmetika temuannya yang sangat cocok dengan karakter kulti orang Indonesia. Dr. Retno yang sempat dijuluki “Dokter Jerawat” inilah yang mendobrak dermatology barat-sentris menjadi timur-sentris.
Dengan ilmunya, dr. Retno berani mengubah kesealahan penerapan ilmu yang diterapkan dunia kedokteran kulit Indonesia yang sebelumnya mentah-mentah mengadopsi ilmu peninggalan Belanda. Dr. Retno tak sudi bila ilmu kesehatan kosmetik Indoensia mengekor pada pola kecantikan Belanda yang jelas-jelas memiliki stuktur kulit dan iklim yang berbeda dengan orang Asia, khususnya Indonesia.
Kecantikan dr.Retno terhadap kecantikan dan keindahan ini tergambar pula pada kecintaannya pad bunga, khususnya anggrek. Menyapa dan mengajak “ngobrol” bunga-bunga anggrek yang menghiasi perkarangannya merupakan kebiasaan yang selalu dilakukannya. Bunga anggrek yang selalu membagi pesonanya kepada orang lain. Tak berlebihan, bila Retno Tranggono diibaratkan setangkai anggrek yang tak ingin layu!
Subscribe to:
Posts (Atom)
